Hallo... ini merupakan postingan pertama saya untuk blog ini dan saya akan bercerita sedikit pengetahuan tentang kampung halaman dimana saya dibesarkan ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua yang telah membaca tulisan ini.. Aamiiin.......
Sandai, kata orang sudah didiami bahkan sejak zaman Rasulullah SAW masih hidup, ada bukti sejarah yang masih diteliti tentang Nisan bertarikh 127 H atau 745 Masehi di Sandai,yang saat itu belum menjadi sebuah nama. Di Sandai juga sudah ada kerajaan yaitu Inderalaya, sebuah kerajaan Melayu-Arab dengan kekuasaan berbatas Banjarmasin di selatan dan Brunei di Utara, kerajaan ini merupakan kota polis bagian dari Imperium Kesultanan Tanjung Pura. Begitu besarnya dahulu Sandai.
Sandai, kata orang sudah didiami bahkan sejak zaman Rasulullah SAW masih hidup, ada bukti sejarah yang masih diteliti tentang Nisan bertarikh 127 H atau 745 Masehi di Sandai,yang saat itu belum menjadi sebuah nama. Di Sandai juga sudah ada kerajaan yaitu Inderalaya, sebuah kerajaan Melayu-Arab dengan kekuasaan berbatas Banjarmasin di selatan dan Brunei di Utara, kerajaan ini merupakan kota polis bagian dari Imperium Kesultanan Tanjung Pura. Begitu besarnya dahulu Sandai.
Hikayat ini adalah tentang kegagahan
orang-orang lama di Sandai yang menaklukan tantangan bernama Tapah, ikan tapah ini suka makan segala jenis hal yang lebih kecil darinya,
dari mulai ikan-ikan hingga monyet. Dan bayangkan bagaimana kiranya jika
ikan tapah yang bergigi tajam dan kata orang pernah menggigit manusia
itu adalah ikan tapah peninggalan masa prasejarah? Ya, Ikan Tapah
Raksasa, atau biasa disebut dengan bahasa setempat Puake Tapah.
Ikan
prasejarah inilah yang tiba-tiba muncul di perairan sungai pawan Sandai.
Penduduk menjadi heboh, karena semua yang mengapung diterkamnya. Orang
tak bisa menyeberang, orang tak bisa memancing, orang tak bisa mengambil
air. Kehidupan segera saja menjadi susah payah, pada zaman itu tidak ada jembatan, bahkan perahu pun masih berperahu jalur,
khas pendatang awal proto melayu dari daratan Yunan dan Vietnam.
Semua usaha sudah dilakukan untuk membunuh Puake Tapah itu, dari mulai memasang tuba hingga mengutus pawang dari suatu daerah yang dikenal dengan ilmunya, Cali.
Namun, bukanlah Tapah namanya jika terbunuh karena tuba, dia cuma menghilang sebentar, lalu seperti kerbau mabuk, dia mengamuk menghantam tebing-tebing tanah lelabi, rumah tinggi bergetar dibuatnya.
Namun, bukanlah Tapah namanya jika terbunuh karena tuba, dia cuma menghilang sebentar, lalu seperti kerbau mabuk, dia mengamuk menghantam tebing-tebing tanah lelabi, rumah tinggi bergetar dibuatnya.
Demikian pula pawang, apalah daya pendidikan pawang kita cuma sampai
pawang ular dan buaya.
Bukannya dapat menyelesaikan si Puake Tapah, malahan si pawang
diselesaikan oleh puake karena dengan beraninya dia turun kesungai
mengantar sesaji dan ramun.
Berbulan penderitaan berlanjut, orang
menjadi ketakutan, sering memanjat pohon-pohon sepanjang sungai untuk
memperhatikan dimana Puake Tapah itu muncul atau menerkam mangsa, dahulu di
tepian sungai Sandai berderet pepohonan untuk mempertahankan tanah dari
laju abrasi, ada berbagai pohon dari mulai kopi hingga karet, serta
tentu saja Pokok Jejawi dan Kelemantan, akarnya terjuntai menyentuh
sungai, tempat anak-anak memanjat dan berayun seakan dirinya anak
rimba.
Musim berganti, kemarau pun datang, batu-batu granit sisa lemparan Pegunungan Vulkanik Purba bermunculan
ditengah-tengah sungai. Dan datanglah tokoh kita, seorang Tio Ciu
peraeh damar yang banyak bersebaran diperbukitan Sandai, damar dulu
digunakan sebagai pemantik api. Sejak lama orang kampung Sandai
mengusahakan damar, hingga salah satu perbukitannya disebut Pendamaran.
Perahu si Tio Ciu hancur diterkam Puake Tapah, tapi dengan kemampuan
meringankan tubuh yang didapatnya dari pelajaran bertempur di Tiongkok
dapatlah dia meraih akar-akar pokok jejawi dan selamat dari terkaman
Tapah.
Orang-orang kampung heran melihat dirinya selamat dan
lebih heran lagi dia juga mengaku punya ide untuk menyingkirkan ikan
purba itu. Maka pekat punya pekat, mufakat telah tercapai, orang Tio Ciu
ini akan membantu menyingkirkan Tapah, jika berhasil maka ia akan
dibuatkan perahu besar dan diisi dengan damar sepenuhnya. Orang Tio Ciu satu ini sebagai mana orang Tiongkok lainnya sudah sejak lama mengetahui
bahan – bahan peledak, dan dia juga tahu bahwa damar yang dikumpulkan
menjadi satu akan menghasilkan panas yang cukup untuk membakar kayu
sekalipun dan apalagi ditambah dengan panas kalori tubuh. Maka dia
meminta orang kampung membuat rakit yang diisi dengan damar yang banyak.
Setelah jadi, diapungkannya rakit itu, ditolaknya dari tepi dengan
penggalah panjang, betul saja, sampai di tengah dengan rakusnya Puake Tapah
menerkam rakit damar itu. Sepenuh rakit damar ditelannya. Satu hingga dua jam ditunggu masyarakat ditepi sungai, semua sudah khawatir si Tio Ciu ini
tak berhasil. Saat ditanya pak demung, tak ada seuntai kata keluar, dia
pun sudah hilang keyakinan diri.
Senja memerahkan ufuk barat,
masyarakat sudah kehilangan asa dan merunduk meninggalkan tepian sungai.
Tinggallah beberapa orang termasuk demung. Dan saat itulah
kejadian hebat terjadi didepan mata mereka, air tiba-tiba bergolak
hebat, ikan purba itu melompat tinggi melebihi pokok kelemantan, lalu
kembali ke air, semua terkena cipratan airnya, amis, amis tapah, amis
darah, tapah itu mulai berdarah.
Matahari tenggelam, gelap gulita
memayungi kampung tua itu. Suar dikeluarkan, tapi tak satupun orang
bisa melihat dimanakah Si Puake Tapah itu. Maka mereka pun hanya
berharap cemas, memohon agar ide Tio Ciu itu berhasil. Sepanjang malam,
yang terdengar hanya riak air berguruh besar dan hentaman ditebing-tebing sungai.
Kuning mencerahkan pagi diufuk barat, kabut belum lagi beranjak dari
sungai disaat demung dan si tio ciu turun dari rumahnya berbekal suar
dan obor. Tak Hanya mereka, semua penduduk desa juga sudah menuruni
rumah mereka menuju tebing sungai. Dan seiiring terangkatnya halimun
dari pertemuan rindunya dengan sungai, terangkat pula lah beban hidup
mereka. Ikan Tapah Besar itu tersandar dengan perut pecah ditebing
kuning tanah lelabi kampung mereka.
“Tesade, tesade, tapah
tesade” Entah siapa memulai, semua penduduk berteriak yang sama, artinya
kira - kira Tapah tersandar. Dan sejak itu orang-orang kampung di
daerah tempat Puake Tapah Tesade itu dengan bangga menyebut diri mereka orang
Sande.
Lalu ketika Indonesia terbentuk, Sande yang merupakan logat asli melayu dicoba Indonesiakan menjadi Sandai, hal yang sama terjadi di Pulau Belitung yang awalnya berasal dari Billiton atau orang melayu menyebutnya Belitong, atau Skulah yang berasal dari cara ucap bahasa Inggri School menjadi Sekolah.
Lalu ketika Indonesia terbentuk, Sande yang merupakan logat asli melayu dicoba Indonesiakan menjadi Sandai, hal yang sama terjadi di Pulau Belitung yang awalnya berasal dari Billiton atau orang melayu menyebutnya Belitong, atau Skulah yang berasal dari cara ucap bahasa Inggri School menjadi Sekolah.
Sehingga akhirnya, kini secara administratif Sande telah berubah nama menjadi Sandai. Demikian hikayat asal nama Sandai.
